1.
Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 8: Architectonic Mathematics (1)
Matematika
sekolah sasarannya adalah Siswa SD, SMP, dan SMA,sedangkan matematika perguruan
tinggi adalah Mahasiswa. Hal itulah yang menyebabkan Matematika Sekolah dan
Perguruan Tinggi berbeda. secara materi pun juga sangat jauh berbeda karena
disesuaikan dengan pola pikir masing-masing siswa dan mahasiswa. Matematika
perguruan tinggi cenderung lebih abstrak yang menekankan pola pikir yang
induktif, tetapi yang menarik adalah antara mathematika sekolah dan matematika
perguruan tinggi memilki keterkaitan. Kita Baru bisa mempelajari matematika
perguruan tinggi jika sudah melewati tahap belajar dalam matematika sekolah.
Berdasarkan
elegy di atas, Architectonic mathematics di perguruan tinggi, dapat kembangkan
melalui riset matematika yang dilakukan oleh mahasiswa. Namun untuk kasus
Architectonic mathematics di tingkat SD harus dilakukan dengan cara khusus dan
tidak bisa disamakan tekniknya dengan Architectonic mathematics di perguruan
tinggi. Sekolah matematika adalah solusinya.
2.
Elegi
Pemberontakan Pendidikan Matematika 9: School Mathematics
Sebagai
seorang pendidik (guru) hakekat matematika itu harus benar-benar dihayati oleh
guru dalam pembelajaran. Jika hakekat matematika tersebut dapat direalisasikan
dengan baik oleh guru tentu siswa akan lebih mudah dan senang belajar
matematika. Namun, pada kenyataannya tidak semua guru telah menerapkan hakekat
tersebut dengan baik. Terlebih ketika masa-masa ujian sekolah, guru lebih
sering memberikan smart solution untuk pemecahan masalah.
Matematika
adalah penelusuran pola atau hubungan, tapi sebagian besar siswa hanya sekedar
mengetahui pola dalam matematika hanya secara menghafal. Sehingga jika
diberikan pola sejenis dalam bentuk yang berbeda sudah bingung.
Yang
kedua matematika adalah kegiatan problem solving, hal ini sangat menantang bagi
guru untuk mewujudkan kenyataan bahwa matematika adalah penyelesaian masalah.
Kembali lagi siswa dihadapkan kepada masalah dimana siswa belum bisa melakukan
problem solving secara mandiri. Alasan kurang latihan mungkin bisa
dipertimbangkan.
Matematika adalah kegiatan investigasi, siswa perlu melakukan investigasi dalam belajar matematika. Jika sudah mampu melakukannya matematika bukanlah hal yang mereka anggap sulit, bahkan matematika akan menjadi seperti game yang membuat mereka haus untuk menyelesaikan pada level-level yang lebih sulit lagi, jika level sebelumnya sudah dimengerti atau dikuasai.
Matematika adalah kegiatan investigasi, siswa perlu melakukan investigasi dalam belajar matematika. Jika sudah mampu melakukannya matematika bukanlah hal yang mereka anggap sulit, bahkan matematika akan menjadi seperti game yang membuat mereka haus untuk menyelesaikan pada level-level yang lebih sulit lagi, jika level sebelumnya sudah dimengerti atau dikuasai.
Yang
terakhir bahwa matematika adalah komunikasi menuntut siswa dapat menyampaikan
hasil pemikiran matematika mereka kepada orang lain, atau minimal kepada dirinya
sendiri. Siswa semestinya mampu mengungkapkan apa saja yang telah mereka
pelajari.
3.
Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 10: Architectonic Mathematics (2)
Architectonic
Mathematics adalah siswa membangun sendiri pemahamannya, merancang, menentukan
pola, sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya. Siswa menggunakan logika
dan pengalamannya sendiri sehingga dengan sendirinya pemahaman matematika
terkonstruksi dalam dirinya. Architectonics mathematics pada dasarnya
adalah pikiran siswa itu sendiri. Architectonics mathematics tidak singular,
akan tetapi plural.
4.
Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 11: Apakah Matematika
Kontradiktif ? (Bagian Kesatu)
Kontradiksi
adalah tanda perkembangan. Jadi bila terdapat kontradiksi dalam matematika,
maka matematika itu dalam proses perkembangan. Perkembangan tersebut dapat di
dalam pikiran kita maupun di luar pikiran kita, dapat bernilai benar maupun
salah dan tidak ada satu orangpun yang dapat menilai kebenarannya. Semuanya
merupakan suatu proses yang akan bermuara pada satu titik yaitu Allah SWT.
5.
Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 12: Apakah Matematika
Kontradiktif? (Bagian kedua)
Kontradiksi
matematika berawal dari kontradiksi setiap unsur pembentuk sistem matematika
nya. Bersifat kontradiksi berdasarkan intuisi ruang dan waktu. Dari kontradiksi
inilah akan membangun kekonsistenan matematika.
6.
Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 13: Apakah Matematika
Kontradiktif? (Bagian Ketiga)
Metode
berpikir intensif dan ekstensif itu perlu kita kembangkan agar mampu membangun
dunia. Gabungan dunia terbatas terhadap ruang dan waktu dengan dunia terikat
terhadap ruang dan waktu itu lah Hakekat dunia. Jadi agar kita dapat membangun
dunia itu dengan membangun kedua dunia tersebut.
7.
Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 14: Apakah Matematika
Kontradiktif? (Bagian Keempat)
Dalam
membangun dunia yang seutuhnya haruslah menyangkut ciri-ciri kusus yaitu dengan
ciri haruslam mengandung prinsip ontologis yaitu didalamnya mengandung prinsip
Identitas (sesuatu yang selalu benar) dan prinsip Kontradiksi (segala sesuatu
yang salah).
Kontradiksinya
karena berada pada ruang dan waktu yang berbeda pula. Jadi akan mempunyai banya
persepsi tentang kekontradiksian tersebut. Karena kontradiksinya matematika
berbeda dengan kontradiksinya matematika, maka kita hendaknya meposisikan kita
pada ruang dan waktu yang sama dulu.
8.
Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 15: Apakah Matematika
Kontradiktif? (Bagian Kelima)
Dunia
yang terbebas dari Ruang dan Waktu. Artinya setiap unsur-unsur di dalamnya juga
terbebas dari ruang dan waktu, sehingga tidaklah mungkin bisa dibentuk suatu
Sistem Matematika jika tidak ada aturan menghubungkan diantara unsur-unsurnya.
Pengaturan hubungan itu ditetapkan pada asumsi awalnya, definisi atau
aksiomanya. Artinya, di dalam Sistem Matematika yang dihasilkan kita tidak akan
pernah menemukan suatu unsur berdiri sendiri tanpa terkait atau terelasi dengan
satu atau lebih unsur yang lain.
9.
Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 16: Apakah Matematika
Kontradiktif (Bagian Keenam)
Matematika
adalah bahasa. ini menurut saya dari dulu. jika semua siswa berfikir bahwa
matematika itu sebagaibahasa, maka saya yakin akan dengan mudah memahami
matematika tersebut. hukum identitas dan hukum kontradiksi yang disebutkan di
atas bisa kita jadikan sebagai contoh. Memang matematika itu hanya terdiri dari
simbol-simbol dan bilangan. tetapi jika dikaji lebih dalam, simbol dan bilangan
itu bisa kita interpretasi sebagai permisalan dari suatu masalah dan tanda
operasi antara dua bilangan bisa diterjemahkan sebagai hubungan antara dua hal
atau masalah. jika kita berpikir seperti itu, maka setiap permasalahan yang
kita hadapi akan terasa mudah untuk mencari solusinya.
10.
Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 17: Apakah Matematika
Kontradiktif? (Bagian Ketujuh)
Ada
2 prinsip atau hukum yang berlaku di dunia yaitu hukum identitas dan
kontradiksi. Jika dia merupakan identitas maka jelaslah dia bukan kontradiksi,
dan juga sebaliknya. Dalam matematika juga berlaku definisi identitas dan juga
definisi kontradiksi. Matematika terancam bukan sebagai ilmu jika hanya
menerapkan hukum identitas, jadi sebenar-benarnya matematika akan lengkap jika
konsisten dan juga kontradiksi. Semoga dengan kita memahami hukum kontradiksi
dalam matematika, sehingga bisa menjadi ilmuwan yang baik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar