1.
Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 18: Apakah Mat Kontradiktif
(Tanggapan utk Ibu Kriswianti)
Dari
uraian di atas, kita dapat mengambil beberapa intisari yang penting,
diantaranya bahwa matematika mempunyai banyak sudut pandang yang beragam, namun
dibalik keragaman itu ada suatu hal yang membuatnya menjadi teratur, yaitu
kekonsistenan ilmu matematika itu sendiri. Untuk itu, agar kita tidak salah
dalam mempelajari ilmu ini, kita harus benar-benar melihat dengan sudut
pandang-sudut pandang yang berbeda untuk memahami kekonsistenan ilmu itu
sendiri.
2.
Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 19: Apakah Mat Kontradiktif?
(Tanggapan utk P Handarto C)
Jika
kita terus berpegang teguh bahwa matematika adalah pure mathematics dan tidak mau
melihat adanya kontradiksi, keadaan ini akan berakibat pada kita yang akan
mengenalkan matematika kepada siswa tanpa hakekat matematika sekolah. Lagi-lagi
kita membangun jarak antara siswa dan matematika. tentunya keadaan ini akan
menghasilkan akibat yang luar biasa. misalnya saja membuat siswa semakin berasa
matematika adalah barang langka yang jauh dari dirinya.
3.
Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 20: Apkh Mat Kontradiktif?
(Tanggapn utk Bu Kriswianti bgn kedua)
Dari
definisi-definisi diatas itu bisa menjadi acuan untuk guru supaya bisa membuat
siswa tidak takut lagi terhadap matematika. mungkin ini juga sebagai tugas
untuk guru, untuk melakukan berbagai alternatif yang lebih mendekatkan siswa
terhadap matematika.
4.
Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 21: Mengapa 3+4=7 kontradiktif?
(Bagian Kesatu)
Kurangnya
kesadaran akan ruang dan waktu itulah menurut saya yang menjadi penyebab utama
kita akan menjelma menjadi seorang manifulatif handal. Pada anak SD yang sedang
belajar dia pasti cenderung akan selalu mendenngar apapun yang dikatakan oleh
gurunya, bisa kita bayangkan jika dari dasar saja kita sudah mengajarkan
sesuatu secara manifulatif kepada siswa kita.
5.
Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 22: Apakah Mat Kontradiktif
(Jawaban utk Prof Sutarto Bgn Kesatu)
Menurut
saya seseorang tidak bisa sekaligus menjadi mathematician, philosopher, dan
educationist. Ada kalanya seseorang menjadi mathematician yaitu apabila
berbicara mengenai matematika perguruan tinggi, misalnya. Dan untuk matematika
sekolah, maka proses pemahaman konsep matematika sebaiknya dikomunikasikan
dengan "bahasa matematika" yang lebih mudah.
6.
Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 23:
Logicist-Formalist-Foundationalist (Jawaban utk Prof Sutarto Bgn kedua)
Dalam
elegi ini dipaparkan bahwa
Absolutist-Platonist-Logicist-Formalist-Foundationalist lebih unggul dalam
bentuk formal matematika tetapi gagal bergaul dengan generasi muda sibelajar
matematika secara substansi Sedangkan Educationist lebih unggul dalam bergaul
dengan generasi muda sibelajar matematika secara substansi tetapi gagal dalam
bentuk formal matematika. sebagai calon pendidik hendaknya memahami
karakteristik dari peserta didik sehingga bisa menentukan model pembelajaran,
strategi pembelajaran dan mengerti apa yang dibutuhkan perserta didik.
7.
Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 24: Solusi 3+4=7 kontradiktif?
(Jawaban utk Prof Sutarto Bgn Ketiga)
Matematika
murni dan matematika sekolah merupakan objek kajian yang berbeda. Keduanya
masing-masing memiliki keunggulan tersendiri. Matematika lebih mengarah tuk
dijadikan objek penelitian matematika. Sedangkan matematika sekolah mengarah
pada objek RME. Dua hal yang berbeda ketika dikolaborasikan dengan komunikasi
yang baik akan memberikan hasil yang baik pula.
8.
Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 25: Kompromi antar Pure
Mathematics dgn School Mathemastics (Jawaban untuk Prof Sutarto Bgn Keempat)
Dalam
belajar matematika, kita tidak hanya bekerja keras dalam menghafalkan rumus
saja, tetapi juga harus bekerja keras memahami rumus-rumus tersebut, darimana
asal mulanya dan bagaimana menyelesaikan suatu permasalahan metematika
menggunakan rumus tersebut. Pendekatan realistik dalam pembelajaran matematika
biasa digunakan untuk siswa sekolah dasar, sehingga para guru diharapkan dan
juga dituntut dalam menjelaskan kepada siswanya secara konsep dan dengan bahasa
yang komunikatif agar mudah dipahami oleh siswa sekolah dasar.
9.
Dialog Internasional 1 Pendidikan Matematika
Masalah
yang masih berkelanjutan ini adalah masalah di dalam suatu pendidikan yang
sebagian besar berasal dari seorang guru, pembuat kebijakan, bahkan orang-orang
dewasa. Diperlukannya inovatif dalam pembelajaran matematika yang dimasih harus
diteliti dan dikaji dengan lebih intensuf dan ekstensif. Kebebasan yang
diberikan akan membangun kreativitas matematika siswa merangsang siswa untuk
menemukan pola dari tujuan penyelesaian masalah matematika.
Yang
pada intinya masih terus selalu memperbaiki sistem pendidikan yang dimana siswa
tidak hanya dapat menyelesaikan permasalahan, tetapi juga dapat membangun dunia
dengan pemikiran-pemikiran dan ide-ide besar siswa.
10.
Dialog Internasional 2 Pendidikan Matematika
Pada
dasarnya, guru-guru sekarang dalam memberikan materi sudah sesuai dengan apa
yang tertulis dalam KD,hanya karena kemampuan siswa yang bermacam-macam
kemampuan dasarnya maka guru harus menyesuaikan dengan kemampuan yang dimiliki
siswa, mungkin guru harus mengulang pelajaran yang sebelumnya, kalau mau
dilanjutkan siswa semakin bingung, maka guru memberikan materi perbaikan bagi
yang kurang dan diberi soal yang tingkatannya lebih tinggi bagi yang sudah
menguasainya, teori tidak sesuai dengan kenyataan dilapangan,maka harus kita
runut dari bawah agar semua dapat terkafer dan runtut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar