Rabu, 23 Januari 2013

Analisis 3


1.             Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 18: Apakah Mat Kontradiktif (Tanggapan utk Ibu Kriswianti)
            Dari uraian di atas, kita dapat mengambil beberapa intisari yang penting, diantaranya bahwa matematika mempunyai banyak sudut pandang yang beragam, namun dibalik keragaman itu ada suatu hal yang membuatnya menjadi teratur, yaitu kekonsistenan ilmu matematika itu sendiri. Untuk itu, agar kita tidak salah dalam mempelajari ilmu ini, kita harus benar-benar melihat dengan sudut pandang-sudut pandang yang berbeda untuk memahami kekonsistenan ilmu itu sendiri.

2.             Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 19: Apakah Mat Kontradiktif? (Tanggapan utk P Handarto C)
            Jika kita terus berpegang teguh bahwa matematika adalah pure mathematics dan tidak mau melihat adanya kontradiksi, keadaan ini akan berakibat pada kita yang akan mengenalkan matematika kepada siswa tanpa hakekat matematika sekolah. Lagi-lagi kita membangun jarak antara siswa dan matematika. tentunya keadaan ini akan menghasilkan akibat yang luar biasa. misalnya saja membuat siswa semakin berasa matematika adalah barang langka yang jauh dari dirinya.

3.             Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 20: Apkh Mat Kontradiktif? (Tanggapn utk Bu Kriswianti bgn kedua)
            Dari definisi-definisi diatas itu bisa menjadi acuan untuk guru supaya bisa membuat siswa tidak takut lagi terhadap matematika. mungkin ini juga sebagai tugas untuk guru, untuk melakukan berbagai alternatif yang lebih mendekatkan siswa terhadap matematika.

4.             Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 21: Mengapa 3+4=7 kontradiktif? (Bagian Kesatu)
            Kurangnya kesadaran akan ruang dan waktu itulah menurut saya yang menjadi penyebab utama kita akan menjelma menjadi seorang manifulatif handal. Pada anak SD yang sedang belajar dia pasti cenderung akan selalu mendenngar apapun yang dikatakan oleh gurunya, bisa kita bayangkan jika dari dasar saja kita sudah mengajarkan sesuatu secara manifulatif kepada siswa kita.

5.             Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 22: Apakah Mat Kontradiktif (Jawaban utk Prof Sutarto Bgn Kesatu)
            Menurut saya seseorang tidak bisa sekaligus menjadi mathematician, philosopher, dan educationist. Ada kalanya seseorang menjadi mathematician yaitu apabila berbicara mengenai matematika perguruan tinggi, misalnya. Dan untuk matematika sekolah, maka proses pemahaman konsep matematika sebaiknya dikomunikasikan dengan "bahasa matematika" yang lebih mudah.

6.             Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 23: Logicist-Formalist-Foundationalist (Jawaban utk Prof Sutarto Bgn kedua)
            Dalam elegi ini dipaparkan bahwa Absolutist-Platonist-Logicist-Formalist-Foundationalist lebih unggul dalam bentuk formal matematika tetapi gagal bergaul dengan generasi muda sibelajar matematika secara substansi Sedangkan Educationist lebih unggul dalam bergaul dengan generasi muda sibelajar matematika secara substansi tetapi gagal dalam bentuk formal matematika. sebagai calon pendidik hendaknya memahami karakteristik dari peserta didik sehingga bisa menentukan model pembelajaran, strategi pembelajaran dan mengerti apa yang dibutuhkan perserta didik.

7.             Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 24: Solusi 3+4=7 kontradiktif? (Jawaban utk Prof Sutarto Bgn Ketiga)
            Matematika murni dan matematika sekolah merupakan objek kajian yang berbeda. Keduanya masing-masing memiliki keunggulan tersendiri. Matematika lebih mengarah tuk dijadikan objek penelitian matematika. Sedangkan matematika sekolah mengarah pada objek RME. Dua hal yang berbeda ketika dikolaborasikan dengan komunikasi yang baik akan memberikan hasil yang baik pula.

8.             Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 25: Kompromi antar Pure Mathematics dgn School Mathemastics (Jawaban untuk Prof Sutarto Bgn Keempat)
            Dalam belajar matematika, kita tidak hanya bekerja keras dalam menghafalkan rumus saja, tetapi juga harus bekerja keras memahami rumus-rumus tersebut, darimana asal mulanya dan bagaimana menyelesaikan suatu permasalahan metematika menggunakan rumus tersebut. Pendekatan realistik dalam pembelajaran matematika biasa digunakan untuk siswa sekolah dasar, sehingga para guru diharapkan dan juga dituntut dalam menjelaskan kepada siswanya secara konsep dan dengan bahasa yang komunikatif agar mudah dipahami oleh siswa sekolah dasar.

9.             Dialog Internasional 1 Pendidikan Matematika
            Masalah yang masih berkelanjutan ini adalah masalah di dalam suatu pendidikan yang sebagian besar berasal dari seorang guru, pembuat kebijakan, bahkan orang-orang dewasa. Diperlukannya inovatif dalam pembelajaran matematika yang dimasih harus diteliti dan dikaji dengan lebih intensuf dan ekstensif. Kebebasan yang diberikan akan membangun kreativitas matematika siswa merangsang siswa untuk menemukan pola dari tujuan penyelesaian masalah matematika.
            Yang pada intinya masih terus selalu memperbaiki sistem pendidikan yang dimana siswa tidak hanya dapat menyelesaikan permasalahan, tetapi juga dapat membangun dunia dengan pemikiran-pemikiran dan ide-ide besar siswa.

10.         Dialog Internasional 2 Pendidikan Matematika
            Pada dasarnya, guru-guru sekarang dalam memberikan materi sudah sesuai dengan apa yang tertulis dalam KD,hanya karena kemampuan siswa yang bermacam-macam kemampuan dasarnya maka guru harus menyesuaikan dengan kemampuan yang dimiliki siswa, mungkin guru harus mengulang pelajaran yang sebelumnya, kalau mau dilanjutkan siswa semakin bingung, maka guru memberikan materi perbaikan bagi yang kurang dan diberi soal yang tingkatannya lebih tinggi bagi yang sudah menguasainya, teori tidak sesuai dengan kenyataan dilapangan,maka harus kita runut dari bawah agar semua dapat terkafer dan runtut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar