1.
Elegi Ritual Ikhlas IV: Memandang Wajah Rasulullah
Sebelum
memandang Wajah Beliau hendaknya kita mempelajari dan mempraktekkan terlebih
dahulu Suri tauladan kehidupan Beliau yang tertuang di Kitab Suci Al-Qur'an dan
Hadis-Hadits Beliau, seperti beberapa hadist Rasulullah SAW yang membuat hati
saya bergetar. Memandang Wajah Rasulullah seperti menemukan guru spiritual yang
menjadi wali pada jamannya. Dan dia itulah yang mampu mengajari dan membimbing
spiritual kita, termasuk adabnya mampu memandang Wajah Rasulullah. Rasulullah
SAW diciptakan oleh Allah memiliki tubuh yang sempurna. Rasulullah SAW tidak
hanya elok dalam rupa tetapi juga mulia kepribadiannya. Sehingga beliau
satu-satunya manusia yang paling sempurna diciptakan oleh Allah di alam ini,
keberadaannya sebagai rahmat bagi seluruh alam. Rasulullah adalah suri tauladan
bagi manusia. Berusaha mengikuti jejak Rasulullah adalah salah satu wujud cinta
kepada Rasul. Seperti yang Bapak tulis dalam elegy di atas, bahwa dalam
penciptaan Rasulullah, Allah melebihkan diantara makhluk-makhluk yang lain
bahkan lebih tinggi dari malaikat. Itulah kelebihan yang Allah berikan untuk
Rasulullah, dengan cahaya yang memancar setiap keberadaan beliau, saat beliau
lahir, bahkan setiap dimana Rasulullah berada maka cahaya pasti akan memancar
darinya sehingga memberi sinar terang di sekitarnya.
2.
Elegi Ritual Ikhlas III: Perjuangan Dewi Umaya dan Muhammad Nurikhlas
Setelah membaca elegi diatas, saya
jadi mengetahui betapa
indahnya hubungan antara anak dan orang tua yang digambarkan dalam blog ini.
Kasih sayang ibu terhadap anak yang tak pernah henti-hentinya meski terpisah
jarak namun terasa amat sangat dekat di hati. Kasih sayang anak terhadap orang
tua, yang mungkin terkadang tak pernah terucap, hanya tersimpan dalam hati dan
doa-doanya, begitu kuat sehingga mampu menguatkan orang tua. Orang tua kita
yang sudah tua, tentu terbatasa dalam segala hal karena berubahnya fungsi dalam
tubuhnya, namun dengan kekuatan doa anak-anak shaleh lah yang akan
menguatkannya beliau di dunia dan akhirat kelak.
Sebagai
anak, kita tidak akan pernah mampu membalas segala kasih sayang, kerja keras,
perhatian, dsb yang telah diberikan orang tua kepada kita, namun doa yang tulus
dan ikhlas, insyaallah akan sangat bermanfaat bagi orang tua kita. Semoga kita
bisa berbakti pada orang tua kita dengan cara yang indah
3.
Referensi Hakekat Berpikir
a.
Tentang
proses yang mungkin terjadi
Dari
hasil berfikir di atas, sebuah peta konsep yang mengagumkan, saya yakin hasil
itu melalui proses yang panjang, perlu kesabaran, pengetahuan yang lebih dari
sekedar memadai, keiklasan, sehingga dapat menghubungkan objek satu dengan yang
lain, fenomena satu denga yang lain, teori satu dengan yang lain, fakta yang
satu dengan yang lain, implikasi, dan biimplikasi.
b.
Berfikir
yang sungguh reflektif
Dari sisi hasil berfikir, peta konsep di
atas amat sangat membantu untuk berfikir berikutnya, hanya yang ini perlu
penjelasan dulu dari pemikirnya.
4.
Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 1: Intuisi dalam Matematika
Intuisi
dibangun dari pikiran kita, intuisi adalah hal luar biasa yang dimiliki seorang
manusia yang harus dibangun. Intuisi tidak bisa lahir begitu saja dalam pikiran
manusia, namun ia harus dibangun melalui beberapa pengalaman. Intuisi juga
dibatasi oleh bahasa yang tersedia pada saat tertentu, namun dibalik itu semua,
intuisi adalah kekuatan yang luar biasa untuk membuka cakrawala ilmu
pengetahuan melalui pikiran kita.
5.
Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 2: Intuisi dalam Matematika (2)
Pembelajaran matematika saat ini masih
didominasi pada pengembangan kognisi formal, akibatnya matematika menjadi
tampak sebagai barang asing yang tidak ada hubungannya dengan pengetahuan
informal anak. Anak tidak diberi kesempatan yang cukup untuk berpikir sendiri
mengenai gagasan matematika. Anak menjadi kurang percaya diri akan kemampuannya
melakukan proses bermatematika, dan yang paling buruk, pembelajaran matematika
tersebut tidak memberi tempat bagi intuisi anak, yang sebenarnya berkaitan erat
dengan cara alamiah anak dalam belajar dan berpikir matematika.
Oleh
sebab itu pembelajaran matematika secara utuh, yaitu mengembangkan kogisi formal
dan kognisi intuitif perlu diupayakan. Langkah yang dapat dilakukan adalah
selalu membelajarkan siswa untuk mengembangkan gagasan sendiri dalam memahami
pengetahuan matematika dan memecahkan masalah-masalah matematika.
Saya
setuju apabila UAN menjadi tekanan baik bagi guru maupun murid, khususnya pada
mata pelajaran matematika. Menurut saya, ketika mengajarkan matematika, sangat
penting untuk menumbuhkan intuisi peserta didik. Yaitu dengan memfasilitasi
peserta didik sehingga mereka dapat mengalami sendiri pembelajaran tersebut,
bukan menerima materi yang sudah jadi. Tantangan yang berat bagi para pendidik
dan calon pendidik.
Intuisi
matematika dapat menjadikan siswa menjadi kritis dan kreativ dalam mempelajari
matematika, tetapi untuk dapat menggapai intuisi matematika tidaklah mudah.
Butuh pengalaman, sikap dan metode yang tepat dalam mempelajari matematika.
Sayangnya dengan diterapkannya UAN sebagai standar kelulusan belajar siswa,
guru lebih memilih cara pintas agar siswanya dapat menjawab benar dan lulus
UAN, dengan mengaibaikan metode yang tepat. Hal ini menyebabkan siswa menjadi
kurang paham terhadap konsep matematika dan berakibat kurangnya “mathematical
experience” siswa. Sebenarnya, belajar matematika bisa dari mana saja, tidak
hanya dari sekolah (pendidikan formal). Dalam kehidupan sehari-hari pun
matematika juga banyak diterapkan, intinya matematika selalu ada di sekitar
kita.
6.
Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 3: Budaya Matematika Menghasilkan
Mathematical Intuition
Dengan
intuisi matematika dapat menghasilkan ide-ide/gagasan matematika. dengan kata
lain penanaman intuisi matematika dalam proses pembelajaran matematika perlu
ditingkatkan. hal tersebut dapat dicapai dengan memberlakukan proses
pembelajaran yang mendukung pencampaian intuisi matematika. selain itu intuisi
dapat terwujud atas dasar pengalaman, yaitu dengan membudayakan matematika yang
menjadi tanggungjawab semua pihak, sekolah, guru, dan masyarakat (orang tua).
dengan kerjasama berbagai pihak tersebut diharapkan dapat mencapai hasil yang
lebih baik lagi. Mengembangkan budaya bermatematika memang kurang dijalankan
oleh para guru matematika. Kita bisa lihat bahkan pernah mengalami bagaimana
kita hanya diberi rumus tanpa tahu darimana asalnya. Kita diberi soal dan cara
mengerjakan, namun akan bingung jika disuruh mengerjakan lagi. Kita lebih
terpaku dengan rumus yang ada dan sulit mengembangkan pemikiran kita. Kita
kesulitan memilih apa yang harus kita lakukan dahulu. Semua masih sering kita
alami sampai sekarang. Sikap seperti itu tentunya tidak mencerminkan
bermatematika.
Oleh
karena itu, saatnya kita berusaha membudayakan bermatematika baik bagi diri
kita maupun bagi siswa kita kelak. Agar nantinya tujuan belajar matematika bisa
tercapai secara sempurna. Budaya ini memang tidak bisa didapatkan secara
instan, perlu pembiasaan bagi siswa. Agar nantinya mereka bisa merasakan dan
lama-lama bisa 'niteni' apa yang harus dilakukan dahulu. Dengan jalan ini,
lama-lama mereka akan bisa menentukan dengan sendirinya melalui intuisinya.
7.
Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 4: Kompetensi Matematika juga
Menghasilkan Mathematical Intuition
Semakin
abstrak suatu materi, maka diperlukan pembuktian formal yang berkaitan dengan
permainan logika. Menurut saya logika harus benar-benar dipahami untuk
membangkitkan intuisi peserta didik dalam bermatematika. Sehingga ketika ia
menerima materi yang semakin abstrak tidak terjadi kebingungan. Dan hal ini
menjadi salah satu tugas para pendidik untuk kreativitas siswa dalam berpikir
logis.
Tugas
para pendidik adalah bersama-sama dengan siswanya untuk menumbuhkankembangkan
kemampuan siswa dengan menunjukkan ide-idenya secara logis dengan bahasa yang
mudah dipahami pula.Selain itu, siswa mampu mengkonstruksi matematikanya
sendiri, walaupun harus dibantu oleh guru, sehingga siswa akan merasa
tertantang dalam mencari solusi dari permasalahan dalam matematika.
8.
Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 5: Peran Intuisi dalam
Mathematical Research
Intuisi menurut saya merupakan pola
pikir yang menjadi petunjuk menemukan solusi suatu permasalahan atau objek
termasuk hal yang ada dan mungkin ada dalam ruang lingkup matematika. Tidak
sedikit yang mengatakan bahwa penelitian dalam bidang matematika itu sulit
sekali. Lewat intuisi yang kita hasilkan sangat membantu dalam pembuatan sebuah
penelitian matematika. Ketika ilmu lain seperti biologi, kimia, fisika dapat
dengan mudah melakukan penelitian maka matematika juga tak menutup kemungkinan
yang demikian. Oleh karena itu, membangkitkan intuisi demi memunculkan ide-ide
yang kreatif akan membantu kita dalam penelitian matematika.
9.
Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 6: Apakah Matematika itu Ilmu?
Matematika
adalah sebuah ilmu, karena penerapannya dapat digunakan untuk memecahkan
masalah yang ada dalam kehidupan kita sehari-hari. Matrmatika adalah sebuah
ilmu, karena dengan mempelajari matematika dapat menambah pengetahuan kita yang
tidak hanya berhubungan dengan ilmu matematika saja, tetapi berkaitan dengan
ilmu yang lain juga. Matematika akan
menjadi ilmu jika bersifat sintetik a priori yang dapat dikonstruksi melalui 3
tahap intuisi yaitu:
1.
Intuisi
penginderaan, obyek matematika yang dapat diserap sebagai unsur aposteriori.
2.
Intuisi
akal, mensintetiskan hasil intuisi penginderan ke dalam intuisi
ruang dan waktu.
ruang dan waktu.
3.
Intuisi
budi, rasio kita dihadapkan pada putusan-putusan argumentasi matematika.
10.
Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 7: Structuralism Mathematics
Matematika harus dikembangkan dengan
tiga pilar utamanya, yaitu matematika sebagai struktur,matematika formal, dan
matematika logic (cara berfikir logis). Selain itu ada satu faktor lagi yang
berpengaruh terhadap perkembangan matematika, yaitu matematika sebagai bahasa.
Dengan menerapkan matematika sebagai bahasa dalam pembelajaran, siswa akan
belajar matematika tidak hanya secara abstrak tetapi secara konkrit yaitu
mengetahui bagaimana penerapan dan kegunaannya dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan itu diharapkan siswa akan lebih tertarik kepada matematika. Karena matematika
sama halnya seperti bahasa, suka tidak suka akan selalu ada dalam kehidupan
sehari-hari kita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar