Rabu, 23 Januari 2013

Analisis Elegi 1


1.             Elegi Ritual Ikhlas IV: Memandang Wajah Rasulullah
            Sebelum memandang Wajah Beliau hendaknya kita mempelajari dan mempraktekkan terlebih dahulu Suri tauladan kehidupan Beliau yang tertuang di Kitab Suci Al-Qur'an dan Hadis-Hadits Beliau, seperti beberapa hadist Rasulullah SAW yang membuat hati saya bergetar. Memandang Wajah Rasulullah seperti menemukan guru spiritual yang menjadi wali pada jamannya. Dan dia itulah yang mampu mengajari dan membimbing spiritual kita, termasuk adabnya mampu memandang Wajah Rasulullah. Rasulullah SAW diciptakan oleh Allah memiliki tubuh yang sempurna. Rasulullah SAW tidak hanya elok dalam rupa tetapi juga mulia kepribadiannya. Sehingga beliau satu-satunya manusia yang paling sempurna diciptakan oleh Allah di alam ini, keberadaannya sebagai rahmat bagi seluruh alam. Rasulullah adalah suri tauladan bagi manusia. Berusaha mengikuti jejak Rasulullah adalah salah satu wujud cinta kepada Rasul. Seperti yang Bapak tulis dalam elegy di atas, bahwa dalam penciptaan Rasulullah, Allah melebihkan diantara makhluk-makhluk yang lain bahkan lebih tinggi dari malaikat. Itulah kelebihan yang Allah berikan untuk Rasulullah, dengan cahaya yang memancar setiap keberadaan beliau, saat beliau lahir, bahkan setiap dimana Rasulullah berada maka cahaya pasti akan memancar darinya sehingga memberi sinar terang di sekitarnya.

2.             Elegi Ritual Ikhlas III: Perjuangan Dewi Umaya dan Muhammad Nurikhlas
            Setelah membaca elegi diatas, saya jadi mengetahui betapa indahnya hubungan antara anak dan orang tua yang digambarkan dalam blog ini. Kasih sayang ibu terhadap anak yang tak pernah henti-hentinya meski terpisah jarak namun terasa amat sangat dekat di hati. Kasih sayang anak terhadap orang tua, yang mungkin terkadang tak pernah terucap, hanya tersimpan dalam hati dan doa-doanya, begitu kuat sehingga mampu menguatkan orang tua. Orang tua kita yang sudah tua, tentu terbatasa dalam segala hal karena berubahnya fungsi dalam tubuhnya, namun dengan kekuatan doa anak-anak shaleh lah yang akan menguatkannya beliau di dunia dan akhirat kelak.
            Sebagai anak, kita tidak akan pernah mampu membalas segala kasih sayang, kerja keras, perhatian, dsb yang telah diberikan orang tua kepada kita, namun doa yang tulus dan ikhlas, insyaallah akan sangat bermanfaat bagi orang tua kita. Semoga kita bisa berbakti pada orang tua kita dengan cara yang indah

3.             Referensi Hakekat Berpikir
a.         Tentang proses yang mungkin terjadi
Dari hasil berfikir di atas, sebuah peta konsep yang mengagumkan, saya yakin hasil itu melalui proses yang panjang, perlu kesabaran, pengetahuan yang lebih dari sekedar memadai, keiklasan, sehingga dapat menghubungkan objek satu dengan yang lain, fenomena satu denga yang lain, teori satu dengan yang lain, fakta yang satu dengan yang lain, implikasi, dan biimplikasi.
b.        Berfikir yang sungguh reflektif
     Dari sisi hasil berfikir, peta konsep di atas amat sangat membantu untuk berfikir berikutnya, hanya yang ini perlu penjelasan dulu dari pemikirnya.

4.             Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 1: Intuisi dalam Matematika
            Intuisi dibangun dari pikiran kita, intuisi adalah hal luar biasa yang dimiliki seorang manusia yang harus dibangun. Intuisi tidak bisa lahir begitu saja dalam pikiran manusia, namun ia harus dibangun melalui beberapa pengalaman. Intuisi juga dibatasi oleh bahasa yang tersedia pada saat tertentu, namun dibalik itu semua, intuisi adalah kekuatan yang luar biasa untuk membuka cakrawala ilmu pengetahuan melalui pikiran kita.

5.             Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 2: Intuisi dalam Matematika (2)
            Pembelajaran matematika saat ini masih didominasi pada pengembangan kognisi formal, akibatnya matematika menjadi tampak sebagai barang asing yang tidak ada hubungannya dengan pengetahuan informal anak. Anak tidak diberi kesempatan yang cukup untuk berpikir sendiri mengenai gagasan matematika. Anak menjadi kurang percaya diri akan kemampuannya melakukan proses bermatematika, dan yang paling buruk, pembelajaran matematika tersebut tidak memberi tempat bagi intuisi anak, yang sebenarnya berkaitan erat dengan cara alamiah anak dalam belajar dan berpikir matematika.
            Oleh sebab itu pembelajaran matematika secara utuh, yaitu mengembangkan kogisi formal dan kognisi intuitif perlu diupayakan. Langkah yang dapat dilakukan adalah selalu membelajarkan siswa untuk mengembangkan gagasan sendiri dalam memahami pengetahuan matematika dan memecahkan masalah-masalah matematika.
            Saya setuju apabila UAN menjadi tekanan baik bagi guru maupun murid, khususnya pada mata pelajaran matematika. Menurut saya, ketika mengajarkan matematika, sangat penting untuk menumbuhkan intuisi peserta didik. Yaitu dengan memfasilitasi peserta didik sehingga mereka dapat mengalami sendiri pembelajaran tersebut, bukan menerima materi yang sudah jadi. Tantangan yang berat bagi para pendidik dan calon pendidik.
            Intuisi matematika dapat menjadikan siswa menjadi kritis dan kreativ dalam mempelajari matematika, tetapi untuk dapat menggapai intuisi matematika tidaklah mudah. Butuh pengalaman, sikap dan metode yang tepat dalam mempelajari matematika. Sayangnya dengan diterapkannya UAN sebagai standar kelulusan belajar siswa, guru lebih memilih cara pintas agar siswanya dapat menjawab benar dan lulus UAN, dengan mengaibaikan metode yang tepat. Hal ini menyebabkan siswa menjadi kurang paham terhadap konsep matematika dan berakibat kurangnya “mathematical experience” siswa. Sebenarnya, belajar matematika bisa dari mana saja, tidak hanya dari sekolah (pendidikan formal). Dalam kehidupan sehari-hari pun matematika juga banyak diterapkan, intinya matematika selalu ada di sekitar kita.

6.             Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 3: Budaya Matematika Menghasilkan Mathematical Intuition
            Dengan intuisi matematika dapat menghasilkan ide-ide/gagasan matematika. dengan kata lain penanaman intuisi matematika dalam proses pembelajaran matematika perlu ditingkatkan. hal tersebut dapat dicapai dengan memberlakukan proses pembelajaran yang mendukung pencampaian intuisi matematika. selain itu intuisi dapat terwujud atas dasar pengalaman, yaitu dengan membudayakan matematika yang menjadi tanggungjawab semua pihak, sekolah, guru, dan masyarakat (orang tua). dengan kerjasama berbagai pihak tersebut diharapkan dapat mencapai hasil yang lebih baik lagi. Mengembangkan budaya bermatematika memang kurang dijalankan oleh para guru matematika. Kita bisa lihat bahkan pernah mengalami bagaimana kita hanya diberi rumus tanpa tahu darimana asalnya. Kita diberi soal dan cara mengerjakan, namun akan bingung jika disuruh mengerjakan lagi. Kita lebih terpaku dengan rumus yang ada dan sulit mengembangkan pemikiran kita. Kita kesulitan memilih apa yang harus kita lakukan dahulu. Semua masih sering kita alami sampai sekarang. Sikap seperti itu tentunya tidak mencerminkan bermatematika.
            Oleh karena itu, saatnya kita berusaha membudayakan bermatematika baik bagi diri kita maupun bagi siswa kita kelak. Agar nantinya tujuan belajar matematika bisa tercapai secara sempurna. Budaya ini memang tidak bisa didapatkan secara instan, perlu pembiasaan bagi siswa. Agar nantinya mereka bisa merasakan dan lama-lama bisa 'niteni' apa yang harus dilakukan dahulu. Dengan jalan ini, lama-lama mereka akan bisa menentukan dengan sendirinya melalui intuisinya.

7.             Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 4: Kompetensi Matematika juga Menghasilkan Mathematical Intuition
            Semakin abstrak suatu materi, maka diperlukan pembuktian formal yang berkaitan dengan permainan logika. Menurut saya logika harus benar-benar dipahami untuk membangkitkan intuisi peserta didik dalam bermatematika. Sehingga ketika ia menerima materi yang semakin abstrak tidak terjadi kebingungan. Dan hal ini menjadi salah satu tugas para pendidik untuk kreativitas siswa dalam berpikir logis.
            Tugas para pendidik adalah bersama-sama dengan siswanya untuk menumbuhkankembangkan kemampuan siswa dengan menunjukkan ide-idenya secara logis dengan bahasa yang mudah dipahami pula.Selain itu, siswa mampu mengkonstruksi matematikanya sendiri, walaupun harus dibantu oleh guru, sehingga siswa akan merasa tertantang dalam mencari solusi dari permasalahan dalam matematika.

8.             Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 5: Peran Intuisi dalam Mathematical Research
            Intuisi menurut saya merupakan pola pikir yang menjadi petunjuk menemukan solusi suatu permasalahan atau objek termasuk hal yang ada dan mungkin ada dalam ruang lingkup matematika. Tidak sedikit yang mengatakan bahwa penelitian dalam bidang matematika itu sulit sekali. Lewat intuisi yang kita hasilkan sangat membantu dalam pembuatan sebuah penelitian matematika. Ketika ilmu lain seperti biologi, kimia, fisika dapat dengan mudah melakukan penelitian maka matematika juga tak menutup kemungkinan yang demikian. Oleh karena itu, membangkitkan intuisi demi memunculkan ide-ide yang kreatif akan membantu kita dalam penelitian matematika.

9.             Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 6: Apakah Matematika itu Ilmu?
            Matematika adalah sebuah ilmu, karena penerapannya dapat digunakan untuk memecahkan masalah yang ada dalam kehidupan kita sehari-hari. Matrmatika adalah sebuah ilmu, karena dengan mempelajari matematika dapat menambah pengetahuan kita yang tidak hanya berhubungan dengan ilmu matematika saja, tetapi berkaitan dengan ilmu yang lain juga. Matematika akan menjadi ilmu jika bersifat sintetik a priori yang dapat dikonstruksi melalui 3 tahap intuisi yaitu:
1.        Intuisi penginderaan, obyek matematika yang dapat diserap sebagai unsur aposteriori.
2.        Intuisi akal, mensintetiskan hasil intuisi penginderan ke dalam intuisi
ruang dan waktu.
3.        Intuisi budi, rasio kita dihadapkan pada putusan-putusan argumentasi matematika.

10.         Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 7: Structuralism Mathematics
            Matematika harus dikembangkan dengan tiga pilar utamanya, yaitu matematika sebagai struktur,matematika formal, dan matematika logic (cara berfikir logis). Selain itu ada satu faktor lagi yang berpengaruh terhadap perkembangan matematika, yaitu matematika sebagai bahasa. Dengan menerapkan matematika sebagai bahasa dalam pembelajaran, siswa akan belajar matematika tidak hanya secara abstrak tetapi secara konkrit yaitu mengetahui bagaimana penerapan dan kegunaannya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan itu diharapkan siswa akan lebih tertarik kepada matematika. Karena matematika sama halnya seperti bahasa, suka tidak suka akan selalu ada dalam kehidupan sehari-hari kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar