“Developing Teacher Training Textbooks for Lesson Study in Indonesia”
Oleh : Dr. Marsigit, MA
Ikhtisar oleh : Friska Anggun D (09313244007)
Blog : http://friscaanggun.blogspot.com/
Selasa, 10 Januari 2012
Upaya mengembangkan buku matematika untuk SMP harus selalu memperhatikan kriteria buku teks yang baik, padahal kehidupan dinamis dan sangat berubah dari waktu ke
waktu, gaya hidup dan kebutuhan orang-orang juga berubah. Upaya pengembangan buku harus sejalan dengan program kursus dan akurasi yang diusulkan. Masih banyak pertanyaan dalam mengembangkan buku teks untuk SMP matematika. Apa sifat matematika sekolah? Apa sifat siswa belajar matematika? Apatujuan mengajar matematika? dan apa sifat dari pemikiran matematika?
waktu, gaya hidup dan kebutuhan orang-orang juga berubah. Upaya pengembangan buku harus sejalan dengan program kursus dan akurasi yang diusulkan. Masih banyak pertanyaan dalam mengembangkan buku teks untuk SMP matematika. Apa sifat matematika sekolah? Apa sifat siswa belajar matematika? Apatujuan mengajar matematika? dan apa sifat dari pemikiran matematika?
Secara khusus, untuk mengembangkan buku untuk matematika SMP kita perlu memiliki gambaran yang jelas pada bagaimana merencanakan dan melaksanakan kegiatan di dalam kelas, antara lain sebagai berikut: Masalah kegiatan pemecahan, penalaran dan bukti, komunikasi matematika, koneksi matematika, representasi matematika, peran teknologi dan ICT, pengaturan konten dan keterampilan pengembangan, konten yang sesuai dan relevan jangkauan, kemampuan dan minat siswa, dan mudah untuk mengikuti dan memahami materi.
Dalam kasus pengembangan tata letak atau desain buku kita dapat mempertimbangkan hal berikut: tujuan yang diberikan untuk setiap bagian, latihan yang relevan dengan tujuan kegiatan belajar, mengembangkan grafik yang relevan dan berguna, tabel, grafik, visual, kunci dan menggunakan bahasa yang tepat untuk siswa.
“Konsep Dasar Kurikulum 2004 SISWA SEKOLAH MENENGAH UMUM(SMU)/MADRASAH ALIYAH NEGERI (MAN)”
By : Dr. Marsigit, MA
Summarized by : Friska Anggun D (09313244007)
Blog : http://friscaanggun.blogspot.com/
Tuesday, January 10, 2012
Planning and curriculum development is a job that requires in-depth and comprehensive study to meet the eligibility requirements. Dynamic development of the Indonesian nation today, demanding that the need to pay attention to curriculum development: current issues in education, the issues arising in the field, variation of schools, educational personnel, interests and abilities of students, as well as the demands of social development, science and technology.
Six basic principles must be considered in the development of mathematics syllabus based on competencies, namely: (1) the subject of learning opportunities for all students without exception, (2) curriculum is not merely a collection of teaching materials, but may reflect a coherent mathematical activities, (3) learning mathematics requires understanding of student learning needs, readiness to learn and learning facility services, (4) opportunities for students to learn mathematics actively to build the structure of concepts through knowledge and experience, (5) the need for assessment activities to improve the quality of learning from time to time, and ( 6) utilization of various learning strategies and methods dynamically and flexibly in accordance with the material, students and the learning context.
Curriculum 2004 is as a concept, as well as a program, according Siskandar, Competency-Based Curriculum (2003) has the characteristics:
Curriculum 2004 is as a concept, as well as a program, according Siskandar, Competency-Based Curriculum (2003) has the characteristics:
1. emphasis on achievement of competencies students both individually and classical;
2. results-oriented and diversity;
3. delivery of learning using a variety of approaches and methods;
4. learning resource not only teachers but other learning resources that meet the educational element;
5. emphasizes the process of assessment and learning outcomes in an effort to control a competency.
The curriculum is designed to be in the process of learning mathematics, students are able to perform search activity patterns and relationships; develop creativity with imagination, intuition and invention; perform problem solving activities; and communicate mathematical thinking to others. To achieve these capabilities developed mathematical learning process that takes into account the context and its application in everyday life.
“The Iceberg Approach of Learning Fractions in Junior High School: Teachers’ Simulations of Prior to Lesson Study Activities”
Oleh : Dr. Marsigit, MA
Ikhtisar oleh : Friska Anggun D (09313244007)
Blog : http://friscaanggun.blogspot.com/
Selasa, 10 Januari 2012
Standar Nasional Pendidikan Matematika di Indonesia adalah kompetensi minimum yang harus dilakukan oleh siswa, yang meliputi afektif, kognitif dan psikomotor kompetensi. Ini berarti bahwa pemerintah mendorong para guru untuk mengembangkan kecakapan hidup siswa dengan menggunakan lingkungan optimal untuk mendukung kegiatan siswa. Matematika di Sekolah Menengah Pertama memiliki fungsi untuk mendorong siswa untuk berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, kreatif dan mampu berkolaborasi dengan orang lain. Para siswa perlu mengembangkan keterampilan pemecahan masalah yang mencakup masalah tertutup dan terbuka. Dalam memecahkan masalah, siswa perlu kreatif untuk mengembangkan banyak cara dan alternatif, untuk mengembangkan model matematika, dan untuk memperkirakan hasilnya. Disarankan bahwa dalam belajar matematika, siswa memiliki kesempatan untuk mengidentifikasi masalah matematika kontekstual dan realistis. Pendekatan kontekstual dan realistis disarankan untuk dikembangkan oleh guru untuk mendorong pemikiran matematika. Tujuan belajar mengajar matematika di SMP meliputi:
1. untuk memahami konsep matematika, menjelaskan hubungan dan menerapkannya untuk memecahkan masalah secara akurat dan efisien.
2. untuk mengembangkan keterampilan berpikir untuk mempelajari pola dan karakteristik matematika.
3. untuk mengembangkan keterampilan pemecahan masalah yang mencakup pemahaman masalah, menguraikan model matematical.
4. mengkomunikasikan ide-ide matematika dengan menggunakan simbol, tabel, diagram dan media lainnya.
5. untuk mengembangkan apresiasi dari penggunaan matematika di kehidupan sehari hari.
Sebagian besar guru mengakui bahwa representasi dari fraksi bisa menjadi tugas yang sangat abstrak dan sulit bagi siswa. Sementara itu, mereka juga menemukan bahwa model gunung es adalah pendekatan yang sangat penting dan berguna untuk mengajarkan pecahan di Sekolah SMP.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar